Pentingnya Guru Dalam Ilmu Agama, dan Tidak Cukup Belajar Secara Otodidak

ust Muhammad Husein Al Habsyi

Oleh Ust. Muhammad Husein Al Habsyi

Ada seorang motivator yang ditanya darimana belajar agama Islam. Berikut adalah kutipan wawancaranya.

Anda mendalami Islam dengan belajar dari seseorang?

Otodidak. Saya membeli buku dan majalah bekas, sekarang lihat Youtube, membeli kaset ceramah, kemudian saya banding-bandingkan. Saya tidak belajar dari satu guru. Guru saya mah Rasulullah SAW dan para sahabat. Kalau berguru sekarang mah rariweuh, pada sombong dengan ilmunya.

Sekarang punya murid dong?

Enggak ada murid, sahabat saja. Ada tidak zaman Nabi sebutan murid. Kata murid itu seperti film Kung Fu ya. Saya mah sama teman-teman panggil sahabat saja. Guru saya siapa saja yang memberi ilmu. Kalau ikan itu memberi ilmu, ya dia guru saya.

~ :: ~

Izinkan kami menanggapi wawancara diatas.

Ilmu agama tidak bisa diperoleh dengan hanya membaca buku atau kitab. Akan tetapi harus talaqqi, belajar secara langsung kepada para ulama yang dipercaya. Hal ini seperti yang menjadi tradisi di dunia pesantren. Al-Hafizh Abu Bakar al-Khathib al-Baghdadi berkata:

لا يؤخذ العلم إلا من أفواه العلماء

Ilmu tidak dapat diperoleh kecuali dari lidah para ulama.

Sebagian ulama salaf berkata:

الذي يأخذ الحديث من الكتب يسمى صحفيا، والذي يأخذ القرآن من المصحف يسمى مصحفيا ولا يسمى قارئا

Orang yang memperoleh hadits dari buku (tanpa berguru) disebut shahafi (pembuka buku). Orang yang mengambil al-Quran dari mushaf, disebut mushafi (pembuka mushaf), dan tidak disebut qari’ (pembaca al-Quran).

Mengapa dalam ilmu agama harus belajar melalui seorang guru, dan tidak cukup secara otodidak? Hal ini didasarkan pada hadits-hadits berikut ini.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

يا أيها الناس تعلموا فإنما العلم بالتعلم والفقه بالتفقه

Wahai manusia, belajarlah ilmu. Karena sesungguhnya ilmu hanya diperoleh dengan belajar dan pengetahuan agama hanya diperoleh dengan belajar melalui guru. (Hadits hasan).

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

من قال في القرآن برأيه فأصاب فقد أخطأ

Barangsiapa berpendapat mengenai al-Quran dengan pendapatnya sendiri, lalu pendapat itu benar, maka ia telah benar-benar keliru.

Dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

من قال في القرآن برأيه فليتبوأ مقعده من النار

Barangsiapa yang berpendapat mengenai al-Quran dengan pendapatnya, maka bersiaplah menempati tempatnya di neraka. (Hadits shahih).

Hadits-hadits di atas memberikan pengertian keharusan berguru dalam ilmu agama. Bukan dipelajari secara otodidak dari buku dan Google.

Berdasarkan paparan di atas, orang yang belajar ilmu agama secara otodidak atau belajar kepada kaum orientalis tidak bisa dikatakan sebagai orang yang alim, akan tetapi disebut sebagai bahits, peneliti dan pengkaji. Orang semacam ini tidak boleh menjadi rujukan dalam agama.

Wallahu a’lam

✒ Ustadz Muhammad Husein Al Habsyi
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
👥 Facebook Page :
Fb.com/UstMuhammad110

📣 Telegram Channel :

bit.ly/UstMuhammad110

Artikel terkait belajar agama :

Pentingnya Sanad Ilmu Agama Bersumber Kepada Rasulullah saw

https://fadlilsangaji.wordpress.com/2013/11/11/aduhai-sang-guru-pelayan-kamu-sekalian/

https://fadlilsangaji.wordpress.com/2014/06/20/peran-guru-dalam-perjalanan-menuju-allah/

 

Sudah bertandang, mau pulang tinggalkan warna dulu kawan.. ( ˘ ˘з(˘⌣˘) tengkyuu.. (┒^o^┎)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: